Kamis, 18 Juli 2013

Berterima Kasih Saat Memberi, Bersyukur Saat Menerima

Berterima kasih saat memberi, dan bersyukur saat menerima


Bulan puasa biasa bulan penuh barokah, sehingga orang berlomba lomba untuk beramal. Dan selalu saja ada kejadian orang berjubel antri pemberian sodaqoh atau zakat. Bahkan ada yang sampai pingsan dan terinjak-injak Pemandangan yang miris dan kejadian yang tak perlu terjadi.


Sesungguhnya ketika kita memberi, kita punya kepentingan agar pemberian kita diterima. Dengan demikian niat kita untuk memberi terlaksana menjadi perbuatan (amal). Kita punya urusan agar hasrat untuk berbagi, bersodaqoh bisa terwujud. Kita punya keperluan agar zakat yang tertanggung dipundak bisa tertunaikan.

Dan syarat wajib untuk terlaksananya pemberian itu adalah adanya pihak  penerima. Pemberian tanpa keberadaan penerima akan menjadi pembuangan. Suatu amal yang sia sia saja. Sehingga dalam konteks tersebut si pemberi membutuhkan penerima. Bukan sebaliknya pihak penerima yang membutuhkan si pemberi. Kita membutuhkan orang untuk bisa menerima apa yang diberikan, sehingga niat dan hajat kita bisa terlaksana.

Sehingga dalam transaksi pemberian tersebut, kita seyogyanya memohon kepada penerima untuk bersedia menerima apa apa yang kita diberikan. Kita berharap pemberian kita bisa diterima sehingga sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada yang bersedia menerima. Urusan Sang Penerima berterima kasih kepada kita atau tidak itu bukan concern kita. Concern kita hanyalah pada terlaksananya apa yang diniatkan. Jadi berterima kasihlah kepada orang bersedia menerima pemberian kita.

Ketika kita menerima sesuatu dari orang pada hakikatnya kita menerima anugerah dari Allah. Karena apa yang diberikan orang itu, yang membangkitkan niat, dan yang menggerakkan hati orang itu adalah Allah. Dan peristiwa pemberian itu bisa terjadi semata mata hanya atas ijin Allah. Sehingga sudah sepatutnya kita bersyukur mengucap Alhamdulillah, memuji Allah atas anugrah tersebut. Kita berterima kasih kepada si pemberi hanya sekedar menghormati dia sebagai sesama manusia. Bahkan terkadang ucapan terima kasih kita menjadi batu sandungan atas keikhlasan si pemberi. Kasihanilah si pemberi dengan mengucapkan terima kasih secukupnya. Ma kasih ya..

Berkaca dari Macet

Suatu ketika jalan Raya Bogor didepan pasar Kramat Jati lagi di beton. Sehingga lalu lintas hanya bisa melewati satu lajur saja.Dan tentunya dampak kemacetannya luar biasa.

Dan sayapun terjebak dan tak berdaya didalamnya. Disebelah kanan saya Kawasaki Ninja 250 R yang perkasa, digerung gerungkan gasnya sehingga tampak makin garang. Disebelah kiri saya, Honda Astrea 800 tua yang sudah lusuh lengkap dengan knalpot yang ngebul. Suara ngik-ngik-ngik menunjukkan kerentaannya. Sementara saya menunggang Honda Suprax baru yang cantik. Kami semua bergerak dan berhenti bersama, seirama dengan ruang kosong yang tercipta.

Tiba tiba terbersit dalam pikiran saya, yang membuat bibir ini terukir senyum. Ternyata yang gagah perkasa, yang cantik molek, ataupun yang tua ringkih sama sama tidak berdaya dihadapan kemacetan. Itulah hakikat manusia, segagah apapun badan kita, secanggih apapun otak kita, secantik apapun paras kita , sebanyak apapun harta kita, kita tetap tidak berdaya dihadapan Allah.

Lantas, masih beranikah kita menyombongkan diri?